Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik.
Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala
kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada
suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut
ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya
ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat
baginya. Namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu
tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena
ilmu itu adalah prasyarat untuk sebuah amal, maka adab adalah hal yang paling
didahulukan sebelum ilmu. Adab adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin
mencarinya.
![]() |
| sumber gambar: pixabay |
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang
dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara
vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara
horizontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu,
maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini
perlu memahami adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu
yang lain? Karena adab tidak bisa diajarkan, adab hanya bisa ditularkan. Para
ibulah nanti yang harus mengamalkan adab menuntut ilmu ini dengan baik,
sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh adab baik dari
Ibunya.
ADAB PADA DIRI SENDIRI
- Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama
batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke
dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja,
melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
- Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu. Hadir
paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
- Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham ketika
suatu ilmu sedang disampaikan.
- Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan
cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan
bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai
tahapan yang disepakati bersama.
- Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah
ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah
ilmu agar mudah untuk diamalkan.
ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
- Penuntut
ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan
dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai
mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam
berkhidmat kepada guru.
- Hendaknya
penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau
menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan
memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat
guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian
terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah
yang diberikan guru, sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk
kedua kalinya.
- Penuntut
ilmu meminta keridhaan guru ketika ingin menyebarkan ilmu yang
disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara
meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu
tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan atau sebut nama guru sebagai
bentuk penghormatan kita.
ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
- Tidak
meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku
ketika sedang kita pelajari.
- Tidak
melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan
komersial sebuah sumber ilmu tanpa izin dari penulisnya.
- Tidak
mendukung perbuatan para plagiator dan produsen barang bajakan dengan cara
tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan
keluarga.
- Dalam
dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali
kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya
dari mana.
- Dalam
dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking"
dalam menerima sebuah informasi. Jangan mudah percaya sebelum kita paham
sumber ilmunya meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan
keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.
Referensi :
- Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep
dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
- Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis),
Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5.
- Muhammad bin Sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015.

Komentar
Posting Komentar